PERANAN DAN JEJAK SEJARAH BENTENG PENUTUK BANGKA SELATAN SEBAGAI SIMBOL KETAHANAN MARITIM DI PULAU LEPAR
DOI:
https://doi.org/10.62281/56ndfv49Keywords:
Benteng Penutuk, Pulau Lepar, Ketahanan Maritim, Warisan Budaya, Masyarakat Pesisir.Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah berdirinya Benteng Penutuk di Pulau Lepar, Bangka Selatan, serta menelusuri makna simboliknya sebagai wujud ketahanan maritim masyarakat pesisir. Benteng Penutuk merupakan salah satu peninggalan penting yang merepresentasikan sistem pertahanan dan strategi keamanan laut pada masa lalu. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif historis, melalui pengumpulan data lapangan, wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi terhadap arsip kolonial, literatur sejarah, serta hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Penutuk didirikan pada masa dominasi kolonial Belanda sebagai bagian dari jaringan pertahanan di wilayah Bangka Selatan untuk mengawasi aktivitas perdagangan timah dan mencegah ancaman bajak laut. Benteng ini berfungsi strategis dalam menjaga jalur pelayaran serta menjadi pusat kontrol pertahanan dan ekonomi maritim. Namun, di luar fungsi militernya, Benteng Penutuk juga memiliki makna simbolik bagi masyarakat Pulau Lepar sebagai penanda identitas dan ketahanan sosial-budaya. Bagi masyarakat lokal, benteng ini menjadi simbol keberanian, solidaritas, dan kesadaran kolektif dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Benteng Penutuk tidak hanya berperan sebagai artefak sejarah, tetapi juga sebagai simbol ketahanan maritim yang menggambarkan semangat pertahanan, nilai-nilai gotong royong, dan kemandirian masyarakat pesisir Bangka Selatan. Benteng Penutuk dapat dijadikan sebagai media edukatif dan sumber inspirasi dalam memperkuat kesadaran sejarah, identitas budaya maritim, serta pembangunan berkelanjutan berbasis warisan bahari.
Downloads
References
Carey, P., & Reinhart, C. (2021). British naval power and its influence on Indonesia, 1795–1942: An historical analysis. Journal of Maritime Studies and National Integration, 5(1), 14-29.
Delasaro Zega, H., Saragih, H. J. R., Halkis, M., Widodo, P., & Suwarno, P. (2025). Revitalization of Maritime Culture as a Pillar of National Resilience in Indonesian Coastal Fisherman Communities. International Journal of Integrative Sciences, 4(2), 289-300.
Dhaswara, D. O., & Jamil, M. S. (2025). Eksistensi Lakso Toboali (Habang) Sebagai Warisan Budaya Kabupaten Bangka Selatan dalam Perspektif Antropologi. POMEURAH: Indonesian Journal of Humanities, 2(1), 61-72.
Dhont, F. (2022). Of Nutmeg and Forts: Indonesian Pride in the Banda Islands’ Unique Natural and Cultural Landscape. eTropic: electronic journal of studies in the Tropics, 21(1), 83-98.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Khalil, S., & Zeid, P. (2019). Concomitant Recital of a Prolonged Reign: Dilation of the Dutch Empire and Enticement of Ascendency, Delineating Batavia, Victim and Valedictorian. Journal Of Contemporary Urban Affairs, 3(1), 161-174.
Konradus, B. (2024). Maritime Culture As A Basis Of Community Resilience. Jurnal Pluralis, 3(1), 304-323.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Sage Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mujib. (2024). Spesifikasi Benteng-Benteng Di Kawasan Bengkulu Pada Masa Kolonial Inggris. Berkala Arkeologi , 15(3), 227–231.
Novita, A., Adhityatama, S., Ramadhan, A. S., Manurung, Y. H. M., & Prasetya, W. H. (2020). Maritime archeology resources potential in Belitung waters. In IOP conference series: earth and environmental science (Vol. 584, No. 1, p. 012056).
Penanggungan, B. D. (2024). Peran Tni Al Dalam Mewujudkan Marine Environmental Resilience (Ketahanan Lingkungan Laut) Bagi Masa Depan Indonesia. Indonesian Maritime Journal, 12(2), 25-35.
Putri, B. (2023). Approaches in the Indonesian Maritime identity Construction. Journal Of Global Strategic Studies: Jurnal Magister Hubungan Internasional, 3(2), 84-103.
Samsul Bahri Wahidun, Edy Sulistyadi, & Buddy Suseto. (2024). Development of Maritime Area Resilience in The Indonesian Border Areas As Implementation of A Total War Strategy in Peace Times. International Journal of Economics and Management Sciences, 2(1), 59–65. https://doi.org/10.61132/ijems.v2i1.394
Saputra, R. M., Somantri, G. R., Subroto, A., & Marsetio, M. (2024). Socio-Cultural Dimensions in the Development of Indonesian Maritime Strength: Strengthening Maritime Identity and Resilience Archipelago Society. JED (Jurnal Etika Demokrasi), 9(3), 302-322.
Smith, L. (2006). Uses of Heritage. London: Routledge.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sutanto, A. (2014). Faktor-Faktor Keterbengkalaian Benteng Toboali Sebagai Bangunan Bersejarah. Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 10(1), 94.
Wahyudhi, Johan & M. Dien Madjid. (2022). “When Water Makes Civilization: The Role of Rivers in Bangka Island in the XVIII-XIX Century” in TAWARIKH: Journal of Historical Studies, Volume 14(1).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Eliza Hizrial, Muhammad Safwan Jamil (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









