ISU STANDAR KECANTIKAN DI INDONESIA DARI PERSPEKTIF FEMINIST FILM THEORY DALAM FILM IMPERFECT KARYA ERNEST PRAKASA

Authors

  • Juliyani Prastiwi Institut Seni Indonesia Padang Panjang Author
  • Abdul Rahman Institut Seni Indonesia Padang Panjang Author

DOI:

https://doi.org/10.62281/amrrsf96

Keywords:

Kekuatan Diri Perempuan, Standar Kecantikan, Penilaian Fisik, Feminisme, Film Imperfect

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana sosok perempuan menunjukkan kekuatan dirinya untuk melawan aturan cantik dan penilaian fisik dalam film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan. Latar belakang penelitian ini adalah fenomena body shaming dan tekanan sosial terhadap penampilan fisik perempuan yang sering dianggap wajar namun bersifat menindas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis proses perubahan karakter Rara, dari seorang perempuan yang merasa dirinya hanya dinilai dari penampilan, menjadi sosok mandiri yang berani menentukan kebahagiaannya sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Analisis dilakukan pada adegan-adegan kunci menggunakan perspektif teori feminisme film E. Ann Kaplan, khususnya melalui analisis representasi dan stereotip kecantikan yang diuraikan melalui konsep 'tatapan' (the gaze) serta objektifikasi." Data penelitian juga diperkuat melalui hasil wawancara dengan produser Chand Parwez Servia dan sutradara Ernest Prakasa untuk memperkuat validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini secara jujur menggambarkan bagaimana aturan kecantikan digunakan sebagai alat penindas, baik di lingkungan keluarga maupun pekerjaan. Transformasi Rara membuktikan bahwa kemenangan sejati perempuan bukan terletak pada perubahan fisik demi memenuhi standar orang lain, melainkan pada keberanian untuk menetapkan batasan dan menerima diri apa adanya. Temuan ini sejalan dengan pernyataan Ernest Prakasa bahwa memutus kebiasaan mengomentari fisik adalah langkah krusial untuk menjaga jati diri perempuan agar tidak hancur oleh tekanan sosial. Film ini berhasil mengedukasi penonton bahwa nilai seorang manusia terletak pada kualitas diri, bukan pada kesempurnaan penampilan luar.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Caulley, D. N. (1992). Content Analysis. Sage Publications.

Fardilla, P. (2021). Objektifikasi Perempuan dalam Film Imperfect: Karier, Cinta dan Timbangan Karya Ernest Prakasa. (Skripsi). Universitas Indonesia https://lib.ui.ac.id/detail?id=20520195&lokasi=lokal

Hapsari, R. M. P., & Sunarto, S. (2022). Representasi Diskriminasi Kecantikan Perempuan dalam Film “Imperfect” Interaksi Online, 11(1), 102–116.

Hasis, M., & Qorib, F. (2023). Analisis Representasi Estetika Tubuh dalam Film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan melalui Perspektif Teori Perbandingan. Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial Humaniora.

Kaplan, E. A. (1983). Women and film: Both sides of the camera. Methuen.

Khomalia, I. (2019). Standarisasi Kecantikan di Media Sosial: Analisis Wacana Sara Mills Beauty Standard di Canel Youtube (Gita Savitri Devi). Dialogia, 16(1), 62–80.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications

Moleong, L. J. (1989). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Rais, K. Q. (2023). Analisis Representasi Fenomena Beauty Privilege dalam Film Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan. (Skripsi). Universitas Lampung. http://digilib.unila.ac.id/91009/

Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wolf, N. (1991). The Beauty Myth: How Images of Beauty Are Used Against Women. Harper Perennial.

Zed, M. (2004). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Downloads

Published

2026-01-10

How to Cite

ISU STANDAR KECANTIKAN DI INDONESIA DARI PERSPEKTIF FEMINIST FILM THEORY DALAM FILM IMPERFECT KARYA ERNEST PRAKASA. (2026). Jurnal Media Akademik (JMA), 4(1). https://doi.org/10.62281/amrrsf96